Korupsi

Jumat, 10-08-2012 13:20


Walubi Tolak Penahanan Hartati Murdaya



Hartati Murdaya

Hartati Murdaya

TERKAIT
JAKARTA, PESATNEWS- Sebanyak 12 majelis yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) meminta pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak menahan tersangka suap bupati Buol Amran Batalipu dan Siti Hartati Murdaya. Surat permohonan bertanggal 9 Agustus 2012 tersebut ditandatangani pimpinan 12 majelis yang tergabung di Walubi. Surat dikirim kepada pimpinan KPK di Jakarta Selatan.

Ada lima alasan yang diajukan agar Hartati Murdaya tidak ditahan. Pertama, Walubi membutuhkan kehadiran dan kepemimpinan Hartati Murdaya dalam menjalankan organisasi sosial dan keagamaan. Kedua, kehadiran dan kepemimpinan Hartati sebagai Ketua Umum Walubi diperlukan untuk menjaga soliditas dan kekompakan 12 majelis.

Ketiga, apabila Hartati Mudaya ditahan dikhawatirkan akan menyebabkan psikologis umat Buddha di seluruh Indonesia terganggu. Bahkan, mengganggu seluruh aktifitas atau kegiatan Bakti Sosial Kesehatan yang selama ini sudah terencana dan sedang dilaksanakan.

Keempat, Hartati Murdaya amat kooperatif. Pimpinan 12 majelis menjamin Hartati akan mengikuti seluruh proses pemeriksaan dan persidangan. Terakhir, umur Hartati Murdaya sudah lanjut. Penahanan dikhawatirkan membuat kesehatan Hartati Murdaya terganggu.

Sebelumnya, pada 31 Juli lalu, pimpinan 12 majelis yang tergabung dalam Walubi juga menanggapi permintaan agar Hartati Mundur dari jabatannya. Menurut mereka, kepemimpinan Hartati Murdaya amat diperlukan, sehingga yang bersangkutan tidak perlu mundur. Kepada umat Buddha di seluruh Tanah Air diminta tidak terprovokasi oleh pernyataan pihak luar.

KPK telah menetapka Hartati Murdaya sebagai tersangka kasus dugaan suap kepengurusan hak guna usaha perkebunan kelapa sawit di Buol, Sulawesi Tengah. Selaku Presiden Direktur PT Hardaya Inti Plantation dan PT Cipta Cakra Murdaya, Hartati diduga menyuap Bupati Buol Amran Batalipu senilai Rp3 miliar. Hartati membantah menyuap. Ia mengaku diperas oleh Amran yang saat itu akan bertarung kembali di pilkada.[rvn/rp]





Editor : -
 

KOMENTAR ANDA

Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.



KOMENTAR

  • Adnan Guyub

    orang bodoh memilih pemimpin yang bodoh. Orang pintar memilih pemimpin yang pintar. Orang jujur memilih orang jujur.
Kontak KamiTentang KamiLowongan Pedoman Media Siber
Copyright © 2013 www.pesatnews.com