JAKARTA, PESATNEWS - Kalangan elit nasional dalam lingkungan partai politik perlu menyikapi serius desakan Ketua MPR RI, Taufik Kiemas (TK), yang berulangkali menegaskan pentingnya mewujudkan regenerasi kepemimpinan bangsa melalui kehadiran orang-orang muda.
Apalagi, sikap Taufik Kiemas itu juga mewakili kegelisahan sejumlah tokoh bangsa untuk masa depan Indonesia yang lebih baik termasuk dalam percaturan dengan bangsa-bangsa lain.
Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Rabu (4/7. Ia mengatakan, komitmen yang ditunjukkan Ketua MPR tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata sehingga diabaikan berbagai pihak, utamanya yang memimpin kekuatan partai politik di tanah air.
"Kelanjutan hidup bangsa ini harus diletakkan dalam kerangka keniscayaan regenerasi, baik karena alasan sejarah maupun kebutuhan untuk menata kejayaan nasional secara sungguh-sungguh dengan menempatkan kaum muda yang pantas sekaligus tangguh," ujar kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini.
Menurutnya, akan dirasakan berat bagi perjalanan Indonesia ke depan bila aspek kepemimpinan bangsa tidak mengikutsertakan orang muda. Selain menyebabkan keterputusan alur bagi generasi yang sudah saatnya ikut memimpin, pengabaian kepada orang muda pun dapat memberi citra negatif yang sulit dihapus terhadap para tokoh yang tidak rela membuka kran regenerasi.
"Keengganan menciptakan orang muda berada pada tampuk kepemimpinan nasional otomatis merugikan nasib negara di kemudian hari, lebih lagi menyangkut elemen muda yang akan menjadi 'limbah politik' akibat hasrat dan kelayakannya tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya," jelas Syahganda, juga anggota dewan pengarah Ikatan Alumni Institut Teknologi (IA-ITB) Pusat itu.
Ia menambahkan, upaya membiarkan harapan orang muda untuk memimpin bangsa ke depan, pada akhirnya akan merupakan warisan dosa sejarah dari para tokoh lama yang tidak memperdulikan tampilnya orang muda di pentas nasional. Sementara itu, rakyat juga turut merasakan akibat buruknya berupa hilangnya taruhan kepercayaan pada barisan muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa untuk kemartabatan dirinya.
"Asprasi mengedepankan kaum muda sama sekali tidak ada kaitannya dengan pendikotomian tua muda, tetapi semata-mata karena kewajiban politik, sejarah, serta moral," katanya.
Karena itu ia mengharapkan, tokoh-tokoh pemimpin partai politik dan pemuka bangsa lainnya segera mempercepat hadirnya orang-orang muda yang layak untuk menjadi pemimpin bangsa di tingkat nasional, baik sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden ke arah pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada 2014 mendatang.
Syahganda meyakini, perekrutan melalui penetapan kriteria atau bentuk penyaringan yang ketat dapat menghasilkan kualitas orang muda sesuai harapan untuk agenda kepemimpinan bangsa berdasarkan kepantasan secara nasional. Di sisi lain, lanjutnya, barisan orang muda dengan kapasitas terbilang pantas pun tersedia jumlahnya cukup banyak di negara ini.
"Tinggal semua pihak memeras usaha untuk mencari figur muda terbaik di antara yang baik dan layak, apakah itu mengutamakan meknisme kader partai ataupun dengan membuka kesempatan pada sosok-sosok muda nonpartisan," ungkapnya. [wan/pn]
Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.